Lewati ke konten utama
Kembali ke Blog

12 Mei 2026 · Tim Snaply

Biaya toko online sendiri vs komisi marketplace

Hitungan sederhana langganan, payment gateway, dan ongkir — kapan toko sendiri lebih murah dari komisi Shopee atau Tokopedia.

"Pindah ke toko sendiri mahal" — kalimat yang sering muncul di grup seller. Kadang benar, kadang tidak. Yang jarang dibahas: komisi marketplace juga mahal, hanya terasa normal karena dipotong otomatis.

Mari kita buka angkanya.

Komponen biaya toko sendiri

1. Langganan platform

Contoh Snaply:

  • Starter: Rp288.000/bulan (Rp2.880.000/tahun — hemat dua bulan)
  • Growth: Rp488.000/bulan (termasuk AI assistant + analitik konversi)

Tidak ada komisi per penjualan dari Snaply.

2. Payment gateway

Xendit mengenakan biaya per transaksi (persentase + fixed, tergantung metode). Ini berlaku di marketplace maupun toko sendiri — bedanya di toko sendiri kamu yang pilih metode dan melihat settlement langsung.

QRIS, VA, dan e-wallet punya struktur biaya berbeda. Anggap 1,5–2,5% sebagai rentang umum untuk perhitungan kasar (cek rate aktual di dashboard Xendit).

3. Pengiriman

Ongkir dibayar pelanggan atau disubsidi merchant (free shipping promo). Biteship / kurir menagih sesuai rate — bukan biaya platform toko.

4. Waktu kamu

Setup awal ~2–4 jam. Maintenance harian (packing, CS) sama seperti jualan di mana pun.

Komisi marketplace

Shopee dan Tokopedia punya struktur kompleks: kategori, program gratis ongkir, campaign. Angka praktis yang dipakai merchant: 5–10% dari nilai penjualan, belum termasuk biaya iklan internal platform.

Omzet bulananKomisi 7% (marketplace)Snaply Starter
Rp10 jutaRp700.000Rp288.000
Rp30 jutaRp2.100.000Rp288.000
Rp50 jutaRp3.500.000Rp288.000
Rp100 jutaRp7.000.000Rp288.000

Di omzet Rp30 juta ke atas, langganan tetap sering lebih murah hanya dari sisi komisi — asalkan toko sendiri mendapat volume yang comparable.

Yang tidak masuk hitungan spreadsheet

Traffic. Marketplace bawa pembeli; toko sendiri butuh sumber traffic (sosial media, ads, SEO, pelanggan lama). Banyak merchant memakai keduanya: marketplace untuk acquisition, toko sendiri untuk margin repeat order.

Data pelanggan. Nilai email/WA list untuk launch produk baru sulit diuangkan di Excel, tapi nyata untuk brand DTC.

Brand. Harga premium sulit dipertahankan kalau produk kamu terlihat sama dengan puluhan listing identik.

Baca: Toko sendiri vs marketplace.

Kapan Starter cukup vs perlu Growth

Starter cocok jika:

  • Omzet di bawah ~100 order/bulan
  • CS manual masih manageable
  • Analitik inti (revenue, AOV, best seller) sudah cukup

Growth masuk akal jika:

  • Banyak pertanyaan produk repetitif
  • Kamu ingin asisten 24/7 yang mengenal katalog
  • Butuh insight konversi dan cohort pelanggan

Selisih Rp200.000/bulan — setara satu atau dua order dengan margin bagus.

Contoh merchant kecil

Sari, skincare lokal, 80 order/bulan, AOV Rp150.000 → omzet Rp12 juta.

  • Marketplace (7%): ~Rp840.000/bulan komisi
  • Snaply Starter + payment ~2%: Rp288.000 + ~Rp240.000 = ~Rp528.000

Potensi hemat ~Rp300.000/bulan jika dia bisa mengalihkan sebagian order ke toko sendiri. Kalau traffic 100% masih dari marketplace, hematnya nol — tapi dia tetap belum membangun audience sendiri.

Tips mengurangi biaya tersembunyi

  1. Aktifkan hanya metode bayar yang pembelimu benar-benar pakai
  2. Subsidi ongkir selektif (mis. min. belanja) bukan flat free shipping semua order
  3. Mulai Starter; upgrade Growth setelah traffic organik naik

Ringkasan

Biaya toko sendiri itu transparan: langganan + gateway + ongkir. Komisi marketplace tersembunyi di setiap order.

Titik impas bukan soal filosofi — soal berapa omzet yang bisa kamu arahkan ke channel milik sendiri.

Hitung untuk bisnismu, lalu lihat cara launch atau mulai di merchant.snaply.id.